Aksi Mahasiswa PMII Walisongo untuk Reformasi Kepolisian
Sejumlah mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Walisongo menggelar aksi unjuk rasa yang menuntut reformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia. Aksi ini dilakukan di pertigaan depan Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, dengan tajuk “Jateng Kelam, Polri Makin Suram, Copot Listyo Sigit, Evaluasi!”.
Aksi yang berlangsung pada Selasa (24/2/2026) tersebut diikuti oleh ratusan mahasiswa yang mengecam kondisi penegakan hukum yang dinilai semakin jauh dari semangat reformasi. Mereka menilai institusi kepolisian kini kehilangan kepercayaan publik akibat berbagai persoalan yang terjadi baik di tingkat regional Jawa Tengah maupun nasional.
Ketua PMII Walisongo, M. Yusrul Rizanul Muna, menyatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk kegelisahan moral terhadap situasi yang terjadi. Ia menekankan bahwa desakan untuk mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan panggilan moral bagi kader pergerakan untuk mengawal cita-cita reformasi.
“Polri harus kembali pada marwahnya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” ujar Yusrul dalam pernyataannya, Rabu (25/2/2026) malam.
Sorotan Kondisi Jawa Tengah
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa berbagai poster kecaman yang menyoroti buruknya citra kepolisian. Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo. Menurut mahasiswa, reformasi Polri harus diwujudkan secara konkret melalui transparansi dan profesionalitas, bukan sekadar jargon semata.
Situasi di Jawa Tengah menjadi sorotan utama dalam aksi ini. Mahasiswa menilai ada banyak kasus yang mencederai rasa keadilan publik yang hingga kini belum tuntas secara transparan. Mereka menuntut agar pihak berwenang segera melakukan pembenahan struktural di tubuh Korps Bhayangkara.
Blokade Pantura dan Mimbar Bebas
Meski aksi ini diiringi dengan aksi simpatik berupa pembagian takjil dan kajian di jalanan, ketegangan sempat terasa saat mahasiswa menggelar mimbar bebas di tengah jalur padat Pantura. Arus lalu lintas di kawasan Jrakah sempat tersendat selama orasi berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat keamanan.
Aksi ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap resmi yang meminta pemerintah segera melakukan pembenahan struktural di tubuh Korps Bhayangkara. PMII Walisongo juga mengancam akan membawa massa yang lebih besar jika alarm peringatan dari mahasiswa ini tidak segera ditanggapi oleh pemangku kebijakan.
Tuntutan Reformasi yang Konkret
Mahasiswa menilai bahwa reformasi Polri tidak bisa hanya diwacanakan, tetapi harus diwujudkan secara nyata. Mereka menuntut adanya transparansi dalam proses penegakan hukum serta pendekatan humanis dalam menjalankan tugasnya. Dengan demikian, Polri dapat kembali menjadi lembaga yang dipercaya oleh masyarakat.
Aksi ini juga menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk menunjukkan komitmen mereka dalam mengawal keadilan dan hak asasi manusia. Mereka berharap, tuntutan yang diajukan dapat segera direspons oleh pemerintah dan aparat terkait.
Komentar dari Masyarakat
Beberapa warga sekitar lokasi aksi mengapresiasi tindakan mahasiswa yang peduli terhadap kondisi penegakan hukum. Namun, beberapa lainnya mengkhawatirkan dampak dari aksi tersebut terhadap arus lalu lintas dan keamanan di wilayah tersebut.











Leave a Reply