Temuan Cacing dan Ulat dalam Makanan Bergizi Gratis di SMKN 1 Sei Rampah
Sebuah video yang menunjukkan adanya cacing hidup dan ulat mati dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa SMKN 1 Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, viral di media sosial pada Januari 2026. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas makanan yang diberikan kepada para pelajar.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh seorang guru dan menampilkan cacing yang masih hidup di dalam nasi serta ulat mati pada menu MBG yang dibagikan kepada siswa. Kejadian ini memicu reaksi dari pihak sekolah dan masyarakat luas, yang mempertanyakan standar higienitas dan keamanan makanan yang disajikan.
Tanggapan dari Pihak Sekolah
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 1 Sei Rampah, Yunita Elmida, mengonfirmasi bahwa video tersebut berasal dari lingkungan sekolahnya. Ia menjelaskan bahwa temuan pertama berupa cacing yang masih hidup di dalam nasi. Setelah kejadian tersebut, pihak sekolah langsung menghubungi SPPG Bintang Ceria yang bertanggung jawab atas distribusi MBG.
“Kami hanya disarankan untuk mengembalikan makanan melalui sopir pengantar sebagai bukti. Namun siswa di kelas tersebut tidak bersedia lagi mengonsumsinya dan tidak ada penggantian makanan,” ujar Yunita.
Beberapa hari kemudian, kembali ditemukan ulat dalam kondisi mati pada menu MBG. Temuan tersebut dilaporkan oleh siswa kepada pihak sekolah dan didokumentasikan. Video kemudian diunggah ke media sosial sebagai bahan evaluasi.
“Sudah dua kali terjadi, yang pertama cacing masih hidup, yang kedua ulat sudah mati. Kami membagikan video itu sebagai bahan evaluasi, bukan untuk kepentingan lain,” jelas Yunita.
Peran SPPG dan Tindakan yang Diambil
SMKN 1 Sei Rampah tercatat menerima distribusi MBG untuk 832 siswa dan 55 guru, sehingga total penerima mencapai 897 orang. Sebelumnya, sekolah sempat menerima distribusi dari SPPG lain dan tidak menemukan permasalahan serupa. Namun, karena kebijakan pemerataan, distribusi dialihkan ke SPPG Sei Rampah.
Yunita menegaskan bahwa sebelum video diunggah, pihak sekolah telah lebih dahulu mengirimkan dokumentasi dan melakukan konfirmasi kepada pihak SPPG. Langkah tersebut, katanya, merupakan bentuk tanggung jawab moral agar kualitas makanan yang diberikan kepada peserta didik layak konsumsi.
“Program MBG ini seharusnya bermanfaat untuk anak-anak. Kalau ditemukan cacing hidup dan ulat, tentu sangat memprihatinkan. Kami khawatir jika terjadi sesuatu, sekolah yang akan disalahkan,” ujarnya.
Permintaan Maaf dari Pengelola SPPG
Setelah video tersebut viral, seseorang yang mengaku sebagai Kepala SPPG Sei Rampah mendatangi sekolah dan meminta agar video dihapus. Namun pihak sekolah meminta adanya perbaikan nyata sebelum video ditarik.
Rico Hartono Hutagaol, Kepala SPPG Sei Rampah, saat dikonfirmasi awak media melalui WhatsApp, Rabu (25/2/2026), mengakui pada Januari lalu memang terdapat temuan tersebut dan menyebutnya sebagai kelalaian dari pihak dapur.
“Kami sudah bertemu dengan pihak sekolah dan menyelesaikannya secara langsung. Kami juga telah menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi serta perbaikan agar lebih baik,” ujar Rico.
Upaya yang Dilakukan Sekolah
Sejak kejadian itu, pihak sekolah mengimbau siswa untuk memeriksa makanan sebelum dikonsumsi dan memastikan pembagian MBG diawasi guru di setiap kelas. Sekolah juga berharap pengelola dapur SPPG meningkatkan standar kebersihan dan higienitas sesuai ketentuan serta meminta adanya pengawasan dan evaluasi menyeluruh dari pihak terkait.















Leave a Reply