Jakarta.Newsz.id

Berita Terkini Jakarta Dan Sekitarnya

Advertisement

UNTAIAN KATA TERAKHIR

Aku menulis di atas sunyi,

merajut kata dengan benang air mata,
namun zaman telah menjelma angin,
menerbangkan nasihat sebelum sempat dibaca.

Dahulu kata adalah lentera,
kini kalah oleh gemerlap layar,
suara nurani tenggelam
di antara riuh dunia yang tak pernah benar-benar diam.

Aku berkata tentang hidup,
namun manusia sibuk mengejar bayangan.
Aku menabur benih kebijaksanaan,
namun tanah hati telah mengeras
oleh kesombongan zaman.

Wahai dunia yang berlari tanpa jeda,
ke mana kau bawa manusia
hingga nasihat dianggap debu,
dan kebenaran hanya menjadi
gema yang tersesat di lorong waktu?

Maka izinkan aku menulis
untaian kata terakhir—
bukan karena aku kehabisan kata,
tetapi karena air mata pun
telah lelah menerjemahkan luka.

Jika kelak kata-kataku tak lagi berarti,
biarlah ia menjadi daun gugur
di halaman zaman;
barangkali suatu hari,
ketika dunia kehilangan arah,
akan ada hati yang memungutnya
dan menemukan jalan pulang.”Jika Setiap Musim Ada Waktunya”

Jika setiap musim ada waktu dan tempatnya,
maka musim semi lah yang menjadi hatiku”
Saat dingin perlahan berlalu,
bunga-bunga mulai mekar”
dan harapan kembali tumbuh di tanah yang sempat kering”

Musim semi bukan sekadar datangnya bunga”
ia adalah tanda:
bahwa setelah setiap kesedihan,
akan datang kebahagiaan yang mekar indah”
Bahwa setelah malam yang panjang”
pasti ada pagi yang menyapa dengan hangat~”Jika Setiap Musim Ada Waktunya”

Jika setiap musim ada waktu dan tempatnya,
maka musim semi lah yang menjadi hatiku”
Saat dingin perlahan berlalu,
bunga-bunga mulai mekar”
dan harapan kembali tumbuh di tanah yang sempat kering”

Musim semi bukan sekadar datangnya bunga”
ia adalah tanda:
bahwa setelah setiap kesedihan,
akan datang kebahagiaan yang mekar indah”
Bahwa setelah malam yang panjang”
pasti ada pagi yang menyapa dengan hangat~Puisi:
Pesta Bubar Republik (Kala Negara Hanya Jadi Beban Pungutan)

Duduk bersila di atas tumpukan tagihan dan bea,
Menghitung sisa napas di negeri yang makin hampa.
Katanya cinta tanah air dengan sejuta sumpah setia,
Padahal negaranya sendiri hobi bikin rakyat merana.

Oh, lihatlah para pengelola singgasana yang kian sakti,
Menerbitkan regulasi baru tiap kali bangun pagi.
Pungli diurus, pajak digerus, utang menumpuk selangit,
Sementara rakyat disuruh makan angin sambil menjerit.

“Wahai rakyat, bersiaplah jika Indonesia nanti bubar!” teriak mereka panik,
Sementara si rakyat malah pesta, menyambutnya dengan senyum sinis dan apik.
Buat apa sedih jika republik ini tinggal nama?
Wong selama ini hidup mereka sudah mirip di dalam neraka!

Wahai penguasa gemar hutang, impor dan hobi memeras,
Kalian kira rakyat menangis jika negara lepas?
Mereka tak peduli bendera berkibar atau tumbang—
Sebab tanpa negara pun, pungli, pajak, korupsi sudah bikin mereka malang!

𝐒𝐞𝐩𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐂𝐚𝐧𝐠𝐤𝐢𝐫 𝐊𝐨𝐩𝐢

​Di ujung malam dan pekatnya jelaga,
Kuingat lagi sisa cerita di dasar cangkir,
Saat langkah dulu masih meraba hampa,
Merangkak perlahan, terjatuh, lalu bangkit diuji getir.
​Ada tangan yang menuntun tanpa suara,

Ada bahu yang kokoh menahan lelah,
Menemani sep−i dalam gulita udara,
Saat dunia seakan menutup seluruh arah.
​Kini, terang telah menyapa jalanku,

Roda nasib berputar membawa tinggi,
Namun jangan biarkan angkuh melupakan waktu,
Saat kita masih merangkak, terbata-bata sendiri.

​Ibarat tongkat bagi si buta yang melihat,
Ia bukan sekadar kayu yang kusam dan tua,
Ia adalah saksi bisu langkah pertama yang kuat,
Yang membuat kita berani menatap dunia.

​Maka, cukup ingat… cukup hargai,
Meski tak mampu membalas dengan setimpal,
Sebab kelak, bisa jadi tangan kita sendiri
Yang menjadi sandaran bagi mereka yang hampir gagal.

​Sambil menyeruput sisa kopi yang kian dingin,
Kupatri janji dalam lubuk hati yang paling dalam:
Untuk tak pernah lupa pada tangan yang menuntun,
Sebelum hari berganti malam.Puisi:
Pameran Topeng Ilahi (Etalase Pura-Pura Suci)

Duduk bersila di atas panggung dunia yang bising,
Menata pameran amal dengan senyum paling manis.
Katanya ingin ikhlas beribadah pada Sang Pencipta,
Padahal jemarinya sibuk mencari panggung manusia.

Oh, lihatlah sang pencari tepuk tangan yang kian mahir,
Menjual kekhusyukan agar pujian lekas mengalir.
Keistimewaan diri diobral murah di setiap sudut maya,
Agar semua mata terpana pada kehebatan fana.

“Lihatlah betapa sucinya aku!” teriaknya dalam hati,
Sementara di hadapan Allah ia merangkak sembunyi-sembunyi.
Kau lukis topeng kemuliaan setebal-tebalnya di cermin,
Padahal di hadapan-Nya, kejujuranmu telah lama mati miskin!

Wahai pedagang validasi di pasar pencitraan,
Kalian jual kebaikan demi secuil sanjungan.
Menghadap Tuhan dengan jubah kepalsuan yang megah—
Dunia bertepuk tangan, sementara hatinya telah rebah!

Puisi:
Balada Si Pengejar Bayangan (Teater Kemunafikan Abad Ini)

Duduk bersila di atas tumpukan literatur tua,
Merajut risau, mengukur dunia dengan mikroskop derita.
Katanya, “Dunia ini pusat segala nestapa dan bencana,”
Padahal ia sendiri yang mengundang drama ke atas meja.

Oh, lihatlah sang filsuf instan yang gemar merenung,
Menatap layar ponsel sambil meratap murung.
Mengejar bayangan sukses, validasi, dan puja-puji,
Lalu pura-pura zuhud dengan gaya paling sakti.

“Jangan jadikan dunia pusat perhatian!” teriaknya lantang,
Sementara jemarinya sibuk menyegarkan halaman tentang uang.
Ia memunggungi dunia dengan gaya sinis dan jera,
Tapi diam-diam melirik, takut bayangannya tertinggal di udara.

Wahai pendekar teori dari balik selimut maya,
Kalian kutuk gemerlapnya, tapi kalian jilat juga.
Mengejar, lari, berputar dalam lingkaran dungu—
Dunia tak pernah peduli pada sandiwara palsumu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *